Kamis, 15 November 2012

Penyebab Kurangnya minat baca di Perpustakaan




Masyarakat Indonesia membangun adalah,

Masyarakat Indonesia membaca,

Menuju masyarakat Indonesia menulis,

(Promoedya Ananta Toer)

Pramoedya Ananta Toer, ia adalah penulis dunia yang pernah dua belas kali menjadi finalis Nobel sastra dunia dan ia adalah produk asli dari Blora. Ironisnya banyak dari pemuda sekarang yang tidak mengenal nama Pramoedya Ananta Toer. Mengapa? Karena pemuda sekarang tak sadar bahwa membaca begitu pentingnya.

Pramoedya Ananta Toer merumuskan bahwa Masyarakat Indonesia membangun adalah masyarakat Indonesia membaca menuju masyarakat Indonesia menulis. Dan kemungkinan besar yang menyangkut kenapa pembangunan Indonesia tidak sepesat negara-negara lain, hal itu dikarenakan masyarakat Indonesia tidak sadar betapa pentingnya membaca. Tidak tersadar membaca adalah pintu gerbang menuju masyarakat Indonesia membangun.

Jika kita lihat dari keberhasilan negara-negara maju, tenyata hal itu tak lepas dari kegemaran masyarakatnya membaca. Contohnya tetangga dekat kita Singapura dan negeri nan jauh sana negeri Paman Sam, di sana sudah diterapkan dalam sekolah-sekolah bahwa para siswa minimal harus membaca dua belas buku dalam setahun yang kemudian merangkumnya dan mempresentasikan hasil rangkumannya didepan kelas. Sedangkan Indonesia? Menghabiskan dua buku dalam satu tahun, Cuma ada beberapa anak yang melakukannya. Ada juga yang sama sekali tidak menghabiskan buku terutama buku pengetahuan dalam satu tahun itu.

Jika dilihat lebih dalam lagi, tenyata ada beberapa penyebab kenapa masyarakat Indonesia malas membaca atau tidak minat membaca.



1.Kurangnya buku

Hal ini memang benar, buku sangat sulit didapat terutama di daerah terpencil seperti Blora. Pendistribusian buku tidak begitu merata. Pendistribusian buku biasanya hanya difokuskan di kota besar yang memiliki toko buku besar seperti Gramedia. Tak ayal jika di Blora sangat sulit untuk mendapatkan buku. Tapi sebenarnya masih ada perpustakaan yang menyediakan buku serta gratis pula.

2.Kurangnya minat masyarakat berkunjung ke perpustakaan.

Kita telah mengetahui bahwa perpustakaan adalah salah satu penyedia buku bacaan yang gratis alias tanpa bayar. Akan tetapi masyarakat enggan untuk berkunjung ke perpustakaan. Seperti ke adaan di SMAN 1 Blora, kebanyakan siswa lebih banyak memilih menghabiskan waktu istirahatnya di kantin dari pada menghabiskan waktu  istirahatnya di perpustakaan untuk membaca buku. Terus mengapa hal itu bisa terjadi? Mari kita bahas lebih lanjut.

Ternyata jika kita perdalam lebih lanjut tentang keengganan siswa untuk berkunjung ke perpustakaan ada banyak faktor. Faktor-faktor itu adalah :

1.Perpustakaan adalah gudang buku yang berkutu

Banyak dari pelajar yang mempunyai pandangan bahwa perpustakaan adalah gudang buku yang banyak kutu bukunya. Keadaan perpustakaan yang kotor serta tidak terawat, membuat suasana perpustakaan layaknya seperti gudang. Apalagi adanya tumpukan buku-buku lama yang tak beraturan yang mengidentifikasikan bahwa ini adalah gudang buku. Jadi siswa merasa jorok jika disuruh berkunjung ke perpustakaan.

Untuk mengatasi hal ini, maka diperlukan suasana yang nyaman, aman dan kebersihan yang selalu terjaga. Ventilasi, tata ruang serta pencahayaan yang profesional pun diperlukan agar ruangan tidak seperti gudang buku. Sehingga siswa tidak merasa jenuh untuk berlama-lama di perpustakaan. Dan akhirnya, perpustakaan pun menjadi sahabat bagi pelajar.

2.Kurangnya fasislitas yang mendukung.

Fasilitas yang kurang mendukung semisal fasilitas multimedia, penyejuk ruangan dan sebagainya juga sangat berpengaruh terhadap minat siswa berkunjung ke perpustakaan. Oleh karena itu fasilitas adalah salah satu faktor untuk membangkitkan minat berkunjung ke perpustakaan.

Di era digital seperti sekarang ini, maka diperlukan fasilitas-fasilitas digital dan modern untuk menarik siswa berkunjung ke perpustakaan. Mulai dari penyejuk ruangan yang menghasilkan udara yang sejuk dan menambah kenyamanan sampai kepada tersedianya fasilitas multimedia yang berupa internet, wifi, vcd serta televisi.
3. Koleksi buku yang kurang dan cenderung kurang up to date

Koleksi buku yang kurang dan cenderung kurang up to date adalah salah satu alasan mengapa siswa tidak minat ke perpustakaan. Mereka menganggap bahwa buku-buku yang ada di perpustakaan hanya buku pelajaran lawas dan buku-buku itu melulu. Padahal arus informasi dewasa ini sangatlah cepat dan beragam. Oleh karena itu perlu adanya buku-buku baru yang up to date, agar siswa tidak bosan-bosannya membaca buku dan menelusuri rasa keingintahuannya.

Berdasarkan beberapa sudut pandang dan uraian di atas, maka akan didapat faktor-faktor mengapa minat berkunjung ke perpustakaan berkurang. Berdasarkan analisis permasalahan tersebut maka akan didapat beberapa solusi yang telah diuraikan diatas. Jika solusi seperti yang diuraikan diatas diterapkan, maka perpustakaan sebagai sahabat bagi pelajar pun bisa terwujud.

3 komentar:

perpustakaan smansa mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
Andika mengatakan...

Ya begitulah siswa sekarang untuk minat membaca kurang, mungkin dengan adanya HP apalagi dengan blackberry siswa sudah asik dengan hal itu

Septi mengatakan...

membaca = mengulur waktu

Poskan Komentar

Rumah Belajar

Perpustakaan Nasional

 

Copyright 2012 PERPUSTAKAAN SMAN 1 BLORA by Juven Pratama, Nurezza Adi, Fariz Iqbal, Imam Hanafi